Welcome to our site

welcome text --- Nam sed nisl justo. Duis ornare nulla at lectus varius sodales quis non eros. Proin sollicitudin tincidunt augue eu pharetra. Nulla nec magna mi, eget volutpat augue. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Integer tincidunt iaculis risus, non placerat arcu molestie in.

Aduh, Dik.. Pintu Museumnya Jangan Dicoret-Coret Dong...

Friday, 8 October 2010

[caption id="attachment_76" align="aligncenter" width="605" caption="Vandalisme Museum..."][/caption]

Beberapa minggu yang lalu, aku sama teman-temanku, Mbak Dyan Indriyani dan Mbak Dewi Kirana Wu bersama-sama jalan-jalan ke Kota Tua dengan niat foto-foto. Museum pertama yang kita kunjungi adalah Museum Fatahillah. Gedungnya keren banget, aku memang suka banget gedung-gedung jaman kolonial. Pada hari itu banyak sekali anak-anak sekolah yang mengunjungi tempat itu. Tetapi sepertinya mereka kurang mengerti mengapa mereka harus ke museum. Di dalam, mereka kerjaannya hanya foto narsis pakai telefon genggam, ada yang pacaran, ada yang ngerumpi.. Tetapi yang paling bikin marah, ada dari mereka yang kerjaannya coret-coret tembok!!

Sewaktu aku foto-foto, aku sudah melihat banyak tulisan-tulisan di tembok dan di pintu... Aku kesel, dan berharap kalau itu kerjaan anak-anak jaman dulu... Eehh.. ternyata. Setelah aku berpindah ke ruangan sebelah, ada anak SMP yang sedang menulis-nulis di pintu... pakai tip-ex! Mereka melakukan vandalisme di pintu Museum... dengan tip-ex!! gimana nggak marah aku melihatnya! Aku tegur anak itu.. "Dik, jangan dicoret-coret! ini tempat umum, peninggalan bersejarah lagi..." Jawaban anak sekolah itu sangatlah tolol. "Mbak panik amat, paling nanti juga ilang, aku cuma iseng kok". Ya ampun, ngapain kamu sekolah ya kalau yang diajarkan di sekolah tidak akan masuk ke otakmu itu? Apakah ini mencerminkan sistim dan mutu pendidikan di sekolah-sekolah kita? Aku harap tidak..

Penampilan seluruh Museumnya juga sepertinya tidak terawat. Penjelasan-penjelasan tidak lengkap dan hanya menggunakan kertas yang dicetak printer komputer, dilaminasi dan di double-tape ke tembok. Sediiiih sekali aku melihatnya. Ya maklum lah anak yang tadi coret-coret, karena penampilan dan presentasi di Museum tadi juga tidak terurus, kesannya tidak ada yang perduli. Beda tampilannja jika kita masuk Museum Wayang. Yang Secara presentasi jauh lebih baik, juga terlihat lebih terurus, vandalismepun tidak terlihat di sana.

Pak Jero Wacik (atau menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada masa mendatang).. lakukan sesuatu dong, Pak...

Alexia.

0 comments:

Post a Comment